Sampek, sebuah alat musik petik tradisional yang menjadi identitas kebudayaan suku Dayak di Kalimantan, memancarkan pesona dari bilah-bilah kayunya. Dengan tiga atau lebih dawai, instrumen ini menghasilkan melodi yang unik dan menawan, seringkali menjadi pengiring dalam berbagai upacara adat, tarian, dan kisah-kisah lisan masyarakat Dayak. Keberadaannya adalah cerminan kearifan lokal dan kekayaan seni musik dari pedalaman Kalimantan.
Secara fisik, Sampek terbuat dari satu potong kayu utuh, biasanya dari jenis kayu keras seperti kayu meranti atau kayu adau. Bagian badannya diukir dengan ornamen-ornamen khas Dayak yang kaya akan makna simbolis, seperti motif ukiran kepala naga atau corak-corak alam. Bentuk Sampek umumnya memanjang dengan leher yang ramping dan bagian kepala yang diukir artistik. Jumlah dawai pada Sampek bisa bervariasi, mulai dari tiga hingga tujuh dawai, terbuat dari senar nilon atau bahan alami seperti rotan atau serat tumbuhan.
Cara memainkan Sampek adalah dengan cara dipetik menggunakan jari atau plektrum. Pemain meletakkan Sampek secara horizontal di pangkuan atau digantung di leher, kemudian memetik dawainya sambil mengatur nada dengan menekan dawai pada bagian lehernya. Teknik memetik dan pengaturan jari yang mahir memungkinkan pemain menghasilkan melodi yang kompleks, ritme yang bervariasi, dan harmoni yang khas. Suara Sampek cenderung lembut, melankolis, namun juga bisa terdengar ceria dan energik tergantung pada jenis lagu yang dibawakan.
Dalam konteks budaya Dayak, Sampek memiliki peran yang sangat penting. Ia sering digunakan dalam berbagai ritual adat, seperti upacara panen, pesta pernikahan, ritual penyembuhan, atau upacara kematian. Melodi Sampek dipercaya dapat menciptakan suasana khusyuk, memanggil roh leluhur, atau mengusir roh jahat. Selain itu, Sampek juga menjadi pengiring tarian-tarian tradisional Dayak dan sarana untuk menyampaikan cerita-cerita rakyat atau legenda yang dituturkan secara lisan.
Keberadaan Sampek tidak hanya sebagai alat musik petik, tetapi juga sebagai simbol identitas dan spiritualitas suku Dayak. Setiap ukiran pada badannya memiliki makna filosofis yang mendalam, mencerminkan pandangan hidup masyarakat Dayak yang erat dengan alam. Pelestarian Sampek menjadi vital untuk menjaga warisan budaya ini agar terus dikenal dan diapresiasi oleh generasi mendatang.
