Pondok pesantren adalah miniatur Indonesia. Di dalamnya, santri dari berbagai latar belakang suku, bahasa, dan budaya hidup berdampingan. Keberagaman ini tidak menjadi penghalang, melainkan kekayaan yang dirawat dengan penuh kesadaran. Merawat Toleransi di lingkungan pesantren adalah fondasi untuk menciptakan harmoni. Ini adalah cerminan ajaran Islam yang mengedepankan perdamaian dan persatuan.
Nilai-nilai toleransi diajarkan sejak dini. Santri dibiasakan untuk menghormati perbedaan pendapat dalam berdiskusi, baik tentang fikih maupun isu-isu kontemporer. Mereka belajar untuk tidak memaksakan kehendak dan mengakui bahwa keragaman pandangan adalah fitrah manusia. Lingkungan yang suportif ini memungkinkan setiap santri merasa dihargai.
Salah satu praktik nyata Merawat Toleransi adalah melalui kegiatan harian. Santri dari suku Jawa, Sunda, atau Madura, misalnya, makan bersama, belajar bersama, dan berorganisasi bersama. Interaksi intens ini secara alami menghilangkan sekat-sekat etnis dan budaya, menumbuhkan rasa kekeluargaan yang kuat di antara mereka.
Pondok pesantren juga sering mengadakan dialog antar-agama. Santri diajak untuk mengunjungi tempat ibadah agama lain atau menerima kunjungan dari komunitas lintas agama. Pengalaman ini membuka wawasan mereka, mematahkan prasangka, dan membangun jembatan persahabatan. Ini adalah Merawat Toleransi secara langsung dan efektif.
Peran kiai sangat sentral dalam menanamkan nilai-nilai toleransi. Mereka menjadi teladan utama melalui sikap dan tutur kata yang menyejukkan. Dalam pengajian, kiai sering menekankan pentingnya Islam yang moderat, yang tidak hanya mementingkan ritual, tetapi juga hubungan sosial yang baik dengan sesama, tanpa memandang latar belakang.
Merawat Toleransi juga diwujudkan melalui kurikulum. Materi-materi tentang sejarah Islam di Indonesia yang multikultural, pemahaman terhadap Pancasila, dan UUD 1945 dimasukkan sebagai bagian integral. Tujuannya adalah mencetak santri yang tidak hanya agamis, tetapi juga nasionalis, mencintai tanah air dengan segenap keragamannya.
Santri adalah agen perdamaian masa depan. Dengan bekal ilmu dan pengalaman hidup di lingkungan yang beragam, mereka diharapkan dapat menjadi duta-duta toleransi di masyarakat. Mereka akan menyebarkan pesan-pesan persatuan dan kerukunan, melawan narasi-narasi kebencian yang sering beredar.
Pada akhirnya, harmoni dalam pesantren adalah bukti bahwa Islam dan keragaman dapat bersanding indah. Melalui pendidikan yang holistik, pesantren tidak hanya mencetak ulama, tetapi juga warga negara yang bertanggung jawab, yang menjunjung tinggi persatuan di tengah perbedaan.
